Awan-awan kelabu,
Bayangi aku dalam desahan sendumu, desahan itu yang kerap bersemayam dan karya-karya bibirmu yang memelukku erat terikat padat.
Kenapa aku harus berhenti mencintai di saat ku seharusnya mencintai? Kenapa kau selimutiku dengan durja disaat ku seharusnya berselimut bahagia?
Awan-awan kelabu, setega itukah kau ambil nyawaku?
Pertanyaan-pertanyaan retoris ini merupakan kronik seorang perawan jingga yang kau hitami nafasnya.
Kenapa semua ini terjadi begitu cepat? Dan sekelebat kereta udara yang baru terisi bensinnya?
Baik, awan-awan kelabu. Taburi saja aku sekalian dengan arangnya. Dan minyaknya serta apinya.
Karena jiwaku sudah tiada lagi terbang mengikuti sang hati. Sementara ragaku telah dipinjam hari-harimu, dirobek, dan mati.
Bawa kemari kepedihan! Salip aku dengan tahta dan kesombonganmu, cepat, bawa kemari! Hidup matiku pun sudah tak ada di tanganku. Takdir saja sudah berteriak panggil-panggil namaku.
Awan-awan kelabu, sekali saja kau jadi temanku, gundahku. Sekali saja bantu aku di antara kesibukan lirihmu.
Lumuri aku, bawakan aku kepedihan yang mendalam. Yang akan membantuku memulihkan wajah hinaku,
surat untuk awan-awan kelabu...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment