Bersyukur. Itulah yang perlu saya lakukan. Akhir-akhir ini saya depressednya minta ampun. Entah pengaruh si bulan yang datang atau otak saya yang memang sedang kekacauan. Tapi bener kata beliau tadi, semua depressed itu jawabannya cuma satu, karna saya kurang bersyukur. Saya depressed karena pacar saya sering sekali menyueki saya, saya iri melihat teman-teman saya yang begitu diperhatikannya sama pacarnya, saya juga iri sama kehidupan saya dulu, tapi satu, saya seharusnya nggak melihat ke atas. Kalau melihat ke atas terus, kapan saya bersyukurnya? Saya mustinya berpikir, oh, alhamdulillah saya dikasih rizki pacar yang baik, pacar yang perhatian. Masih banyak pacar-pacar lain yang error, yang suka habis manis sepah dibuang, yang suka main tangan sama pacarnya, yang suka gonta-ganti pacar. Nah itu, lihat ke bawah, dan saya dan kamu semua akan merasa bersyukur.
Bersabar. Resep kedua, yang benar-benar selalu manjur. Pohon sabar memang berbuah. Saya tahu, dan saya sudah pernah mencicipi buahnya. Semua yang saya miliki disini adalah punya Allah, kalau saya punya keluarga, punya pacar, punya sahabat-sahabat, itu semua karena Allah. Mereka semua dititipkan pada saya, agar saya bisa dididik dan mengalami hal-hal yang baik. Kalau suatu saat saya kehilangan mereka, saya enggak boleh sedih, karena itu bukan punya saya. Saya lahir tanpa memiliki apa-apa, kenapa saya harus takut kehilangan segalanya? Sama halnya kalau saya menjadi petugas penitipan barang di giant superstore—meskipun barang yang dititipkan saya adalah barang terbagus di dunia, saya enggak boleh merasa memiliki, dan saya harus siap kalau suatu saat orang yang menitipkan akan mengambil barang itu.
Ingat Allah. Dekat sama Allah. Kalau sedih, ingat Allah. Kalau merasa kehilangan segalanya, ingat Allah. Kalau putus asa, ingat Allah.
Saya ada pengalaman. Waktu saya exchange student ke Amerika kemarin, saya sering sekali merasa sendiri. Dan ada saatnya dimana saya benar-benar putus asa dan merasa tidak punya siapa-siapa. Waktu itu saya sakit, saya muntah-muntah di kamar mandi basement yang dekat kamar tidur saya (karena saya nggak berani ke atas lagi,takut ngerepotin hostfam saya) , saya menangis membersihkan sisa-sisa muntah saya yang kemana-mana. Saya ingat ibu saya, saya ingat rumah, biasanya kalau sakit—apalagi muntah—pasti ada saja yang perhatian—apalagi ibu saya. Sehabis bersih-bersih saya ke kamar saya dan nangis lagi. Saya keluarin semua sisa-sisa obat yang saya bawa dari rumah. Saya benar-benar merasa jadi orang paling kesepian saat itu. Saya tengok kanan-kiri, ada Al-Qur’an yang sudah lamaaa sekali enggak saya baca. Akhirnya saya ngaji. Semenit, lima menit, lima belas menit, lama-lama hati jadi tenang sendiri. Ternyata memang di saat enggak ada siapa-siapa, dan di saat kita enggak punya apa-apa, yang kita perlukan memang cuma Allah dan firmanNya. Karena Allah dan Al’Qur’an nggak akan kemana-mana, nggak akan ninggalin kita, nggak akan ngekhianatin kita.
Satu resep hidup bahagia, ingat Tuhan kita..., Allah SWT.
No comments:
Post a Comment